Angela - Muda Memimpin dengan Konsep Diri

Kisah Angela menyoroti bagaimana sekelompok remaja membangun budaya pembaharuan sejak dini melalui kegiatan pengembangan konsep diri dan kapasitas kepemimpinan di Surabaya, Indonesia.

“Menurut saya, menjadi seorang pembaharu itu bukan hanya pembaharu bagi diri saya sendiri, tapi juga pembaharu bagi yang lainnya.”

Angela bersama dengan timnya berupaya untuk menggeser pola pikir anak muda untuk melihat diri mereka sebagai seorang pemimpin yang berdaya dan dapat membawa perubahan. Didasari oleh pengembangan konsep diri, kepercayaan diri, dan kesadaran diri, Angela bertekad mewujudkan dunia dimana setiap orang mampu meraih potensinya dan berkembang. Kisah Angela menunjukkan bagaimana generasi muda dapat mengenali kekuatan mereka dan berani memimpin sedari muda. 


Angela Ana Clemence Lesmana, gadis 15 tahun asal Surabaya, mengingat masa ketika ia merasa tidak peduli terhadap isu sosial yang terjadi di sekitarnya, “biarkan saja, itu kan bukan masalahku?” pikirnya kala itu. Hingga suatu ketika ia mengalami perundungan di tahun pertamanya berseragam putih-biru. Meski sudah mencoba membicarakan hal itu dengan temannya, Angela merasa ada hal yang mengganjal.

Berusaha mencari perspektif lain, Angela menceritakan pengalaman tersebut kepada guru PKn di sekolahnya, SMP Santa Maria, yang sering menjadi teman diskusinya, Pak Martinus. Menanggapi hal itu, Pak Martinus menantang Angela untuk mengembangkan konsep dirinya, bagaimana ia memandang dan bersikap terhadap diri sendiri. Pak Martinus mendorong Angela mencari potensi dirinya dan meningkatkan kepercayaan diri untuk menemukan tujuan hidup dan tanggung jawabnya sebagai insan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana anak muda dengan kemampuan beradaptasinya, sikap Angela berubah ketika ia didorong untuk berpikir melampaui dirinya.

Proses memahami diri ini membawa Angela untuk juga secara kritis memikiran lingkungan di sekitarnya. Ia mulai memperhatikan dan sadar akan penyimpangan perilaku yang terjadi di kalangan remaja seusianya, seperti merokok, menyontek, perundungan, serta konten negatif di media sosial, yang berdampak pada produktivitas mereka. Alih-alih merasa apatis, Angela sekarang merasa terpanggil untuk bertindak. 

Menurut pengalaman Angela, anak muda sering merasa tersisihkan karena kurangnya wewenang untuk memilih dan berpendapat. Ketika dunia ini didominasi oleh orang dewasa, anak muda merasa kurang berdaya untuk mengakses potensi terbaiknya untuk membuat perubahan positif.

Karena itu, Angela meluncurkan Dare to Lead (DTL) untuk mengubah paradigma tersebut dan mendorong anak muda, seperti dirinya, untuk mengoptimalkan hak dan menjalankan tanggung jawab mereka. Daripada terlibat dalam perilaku negatif, Angela ingin generasi muda membawa lingkungan mereka ke arah yang lebih baik. Ia percaya bahwa kepercayaan diri, kesadaran diri, dan konsep diri adalah kunci untuk memulai perjalanan itu.

Kini, DTL merupakan sebuah platform kolaboratif antara individu, sekolah, dan komunitas lokal untuk melahirkan generasi remaja yang aktif dan bijak dalam berpikir secara kritis, beradaptasi, dan memimpin di dunia yang penuh dengan perubahan. Alih-alih menunggu orang dewasa untuk mengubah dunia, Angela ingin anak muda sadar akan kemampuan mereka untuk membawa perubahan yang mereka inginkan. "Pertama, kita harus berani bermimpi," ujar Angela, "lalu kita lakukan." 

Kita sebagai generasi muda harus berani untuk memimpin dan melawan arus.

Angela mengawali gerakan DTL dengan dua orang temannya, dan dengan cepat berkembang menjadi 25 anggota tim yang turut memimpin sesuai dengan kapasitas masing-masing. Bersama, mereka membantu anak muda menemukan kekuatan dan jati dirinya melalui beragam kegiatan sesuai minat masing-masing. Kegiatan ini meliputi kemah aktualisasi diri, kemah kepemimpinan, klub peneliti muda, gerakan ekologis, pelatihan kesadaran sosial, kelompok belajar dengan tutor sebaya, edukasi kesehatan ke masyarakat, serta program bimbingan remaja.

Pada kegiatan alam terbuka, seperti outbound dan hiking, mereka belajar bagaimana menjadi pemimpin yang tangguh sembari memahami dan mengapresiasi dengan lebih baik akan karunia alam semesta dan apa yang anak muda bisa kontribusikan sebagai balasannya. Melalui program-program DTL, Angela melibatkan lebih dari 70 anak muda dari berbagai organisasi kepemudaan dan keagamaan untuk belajar memahami diri dan lingkungan sehingga merasa berdaya untuk bertindak dan bertanggung jawab atas masa depan mereka. 

“Pembaharuan (changemaking) bukan hanya tentang membawa perubahan bagi diri dan sekitarnya, namun juga menginspirasi dan membantu teman-teman lain untuk menemukan kekuatannya sebagai agen perubahan,” kata Angela. Ia percaya bahwa mengembangkan potensi generasinya berarti mendukung pembangunan Indonesia secara keseluruhan karena anak muda merupakan tulang punggung bangsa. Angela berpendapat bahwa “generasi muda harus berani untuk memimpin dan melawan arus,” untuk menemukan solusi kreatif yang akan menerangi masa depan Indonesia dan dunia.